Muhammad Rezki dari Drummond Building, Newcastle University.

Muhammad Rezki dari Drummond Building, Newcastle University.

Tulisan ini merupakan elaborasi ketiga dari tulisan saya: Langkah-langkah Melanjutkan PhD di Inggris dengan Beasiswa LPDP (http://bit.ly/1Cst0k6)

Sudah belasan orang yang bertanya pada saya mengenai pengalaman belajar Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Saya memang pada Desember 2013 sampai Januari 2014 yang lalu berkesempatan untuk belajar Bahasa Inggris di kampung yang sering disebut dengan kampung Inggris tersebut. Apa yang saya tulis di bawah adalah pengalaman saya pada rentang waktu tersebut.

  1. Kondisi kegiatan belajar-mengajar 

Pada awalnya saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi tentang bagaimana belajar di lembaga-lembaga kursus yang ada di kampung Pare. Imaji saya ketika itu: duduk di dalam kelas ber-AC dengan kursi dan meja, lalu pengajar menjelaskan dengan proyektor, atau minimal white-board. Tapi ternyata bayangan saya tersebut semuanya salah. Hampir seluruh lembaga kursus yang ada di Pare menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan sederhana: belajar di luar kelas, duduk menggunakan kursi dengan melingkar di bawah pohon, duduk berbaris di pinggir jalan, dst. Dan setelah dijalani, metode belajar seperti ini ternyata cukup mengasyikkan. Kegiatan yang dilakukan di dalam kelas hanyalah kegiatan yang memang tidak bisa dilakukan di luar kelas seperti listening atau simulasi tes IELTS/TOEFL.

Mayoritas program yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga kursus di Pare berdurasi dua pekan atau satu bulan. Untuk program yang berdurasi dua pekan dimulai pada tanggal 10 dan 25 setiap bulannya. Saya akan menceritakan lebih lanjut mengenai kegiatan belajar-mengajar pada poin 5 di bawah.

  1. Tentukan kebutuhan sebelum berangkat, lalu pilih lembaga kursus 

Yang pertama kali perlu anda lakukan jika ingin berangkat ke Pare adalah menentukan kebutuhan Bahasa Inggris yang ingin anda pelajari. Misal, apakah untuk belajar IELTS? Melancarkan speaking? TOEFL? Grammar? Dst. Hal ini penting mengingat di Pare terdapat banyak sekali lembaga kursus (kalau tidak salah jumlahnya ratusan) yang menawarkan program yang berbeda-beda. Di antara ratusan tersebut, ada yang memang terkenal unggul dalam program grammar-nya, speaking-nya, IELTS-nya, dst.

Lalu, jika anda sudah mendapatkan beberapa nama lembaga kursus, cari lagi informasi mengenai kualitas lembaga-lembaga tersebut. Karena memang tak dipungkiri ada beberapa lembaga yang abal-abal, ada pula yang sudah berpengalaman dan sudah memilik banyak alumni yang sukses.

Saya tidak merekomendasikan untuk mencari info mengenai lembaga kursus yang baik hanya mengandalkan internet. Hal tersebut dikarenakan saya merasa beberapa lembaga sangat pintar melakukan branding di internet, namun kenyataannya di Pare program yang mereka tawarkan tidak sewah yang digambarkan di internet. Tanyailah orang-orang yang sudah pernah belajar di Pare untuk informasi yang lebih akurat.

  1. Opsi nge-kos, tidak nge-camp 

Mayoritas lembaga kursus di Pare menawarkan programnya satu paket dengan camp—semacam asrama khusus yang disediakan oleh lembaga kursus, baik berada satu lokasi dengan office mereka atau pada lokasi terpisah. Sepertinya tidak ada paksaan dari lembaga kursus agar anda mau tinggal di camp mereka. Karenanya, pilihan kembali kepada anda apakah ingin nge-camp atau nge-kos dengan mempertimbangkan untung ruginya. Di antara keuntungan jika nge-camp adalah bisa meningkatkan kemampuan speaking karena beberapa lembaga mewajibkan siswa yang tinggal di camp untuk full menggunakan Bahasa Inggris. Lalu juga anda bisa berkenalan dengan banyak orang di camp. Namun ruginya—terkhusus bagi orang seperti saya—adalah anda tidak memiliki ruang/waktu privasi. Jangan bayangkan satu kamar di camp hanya diisi oleh 1-2 orang saja, namun banyak. Lembaga kursus juga tidak akan mengurangi biaya pendaftaran meskipun anda tidak tinggal di camp mereka.

Dua minggu pertama di Pare saya memutuskan untuk merasakan nge-camp. Dan ternyata memang saya tidak betah. Pada akhirnya saya memutuskan untuk nge-kos yang jaraknya dari kantor lembaga kursus hanya disela oleh satu bangunan masjid. Jika anda memilih untuk nge-kos, jangan lupa sampaikan kepada pemilik kos bahwa anda ingin sekamar sendiri. Kalau tidak, pemilik kos akan memasukkan orang lain untuk sekamar berdua dengan anda. Tempat saya kos dulu hanya Rp. 300.000,- per bulan untuk satu orang.

  1. Kehidupan keseharian 

Untuk mobile di kota ini, anda sangat perlu menyewa sepeda. Harga sewanya kalau saya tidak salah berkisar 40-50 ribu rupiah per dua pekan, dengan jaminan KTP. Pare hanyalah sebuah kota kecil (kampung) yang tidak memiliki sebuah mall. Kota besar terdekat adalah Kota Kediri, yang bisa ditempuh dengan sepeda selama 1-2 jam (kalau saya tidak salah). Waktu saya di sana belum ada Indomaret dan Alfamart, namun ada beberapa minimarket lokal yang menjual kebutuhan dasar seperti sari roti dan susu ultra :). Laundry juga banyak dan bisa dikatakan sangat murah (2.500 per kilo).

Kalau soal makanan, anda harus lebih teliti di kota ini. Saya dan beberapa teman sekelas sempat menderita diare secara bergantian, yang kami duga kuat ditularkan oleh makanan yang kami santap. Memang makanan sangat murah di kota ini, tapi faktor higenitas sepertinya kurang diperhatikan. Untungnya nafsu makan saya terselamatkan karena di kota ini terdapat (minimal) tiga buah rumah makan Padang.

Jangan bayangkan semua aktfitas di kampung ini dilakukan dengan bahasa Inggris. Tidak. Bahkan ibu kos saya waktu itu malah sulit berbahasa Indonesia (hanya bisa bahasa Jawa). Dan yang terpenting, penduduk lokal di Pare sangat ramah dan santun. Saya hampir setiap hari diberi makanan oleh ibu kos.

  1. Test English School 

Dua minggu pertama saya di Pare, saya mendaftar di sebuah lembaga kursus yang direkomendasikan oleh teman saya di Jogja. Selama dua minggu pertama ini, saya merasa tidak mendapatkan apa-apa karena pelajaran yang diberikan tidak terstruktur dan kualitas pengajar yang saya kira kurang berkompeten. Di lembaga ini saya pada awalnya ditempatkan pada speaking level 4. Namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk pindah ke speaking level 3. Dan betapa kagetnya saya, ternyata pengajar di level 3 tersebut adalah siswa di level 4. Saya juga punya pengalaman buruk pada awal pendaftaran di lembaga ini. Untuk menentukan level mana yang akan dimasuki, mereka akan menguji kemampuan berbahasa Inggris anda. Dan yang membuat saya jengkel adalah pengujinya yang mengetes speaking saya sambil merokok. Saya merasa tidak perlu menyebutkan nama lembaga kursus ini (yang terpenting saya sudah menyampaikan kritik dan saran ketika mereka mintai). Oh ya, lembaga ini sepertinya salah satu lembaga dengan pendaftar terbanyak di Pare, mereka juga punya camp yang jumlahnya belasan.

Selama dua pekan pertama, saya bertanya-tanya dan mencari-cari info ke sana ke mari mengenai lembaga kursus yang paling baik untuk mengajarkan IELTS. Dan akhirnya mengkerucutlah pilihan saya pada: Test English School.

M RexkiTest English School saya akui telah sukses mengajari saya IELTS. Sebelum saya berangkat ke Pare, pengetahuan saya tentang IELTS bisa dibilang sangat minim. Namun dengan sistem pendidikan yang mereka rancang, pengetahuan saya tentang IELTS jauh meningkat. Program IELTS di Test dirancang 4 pekan. Pelajaran setiap harinya disampaikan dalam 5-6 sesi, dimulai ba’da subuh sampai jam 9 malam. Satu sesi berkisar antara 1,5 sampai 2,5 jam dan diselingi oleh jam istirahat yang durasinya bervariasi. Satu pekan pertama, sesi-sesi tersebut diisi dengan materi-materi yang bisa men-support pengerjaan soal IELTS, seperti cara melakukan paraphrasing, dll. Di pekan kedua dan ketiga, sesi pertama (ba’da subuh), digunakan untuk melakukan simulasi reading dan listening yang diambilkan dari buku Cambridge IELTS. Pada sesi-sesi berikutnya dilakukan pembahasan tentang soal yang baru saja disimulasikan, dan ditambah materi-materi untuk speaking dan writing. Kegiatan seperti itu dilakukan setiap hari kecuali weekend. Pada pekan keempat, simulasi bahkan dilakukan dua kali sehari.

Ada dua kelebihan dari Test English School yang saya kira tidak dimiliki oleh lembaga kursus lainnya di Pare. Pertama, karena dikumpulkan dengan orang-orang yang memiliki tujuan sama (i.e. ingin studi di luar negeri) dan berinteraksi dengan mereka dari pagi sampai malam, anda akan mendapatkan cipratan motivasi dari teman-teman sekelas tersebut. Berbeda dengan lembaga kursus saya pertama. Sebagian mereka hanya ingin mengisi liburan dan interaksi juga sangat minim, karena satu hari hanya ada 3-4 sesi dengan peserta yang berbeda-beda setiap sesi. Kedua, Test English School memiliki banyak alumni yang sudah berhasil mewujudkan keinginan mereka untuk belajar di luar negeri. Dan Test saya kira sangat pintar untuk menjalin komunikasi dengan para alumninya, yang ini memberikan keuntungan bagi alumni dan bagi test sendiri. Bagi alumni, dengan tetap menjalin komunikasi tersebut bisa dijadikan sarana berbagi inspirasi pada orang lain dan pada siswa yang sedang belajar di Test. Bagi Test, para alumni mereka yang sukses mendapat skor IELTS mencukupi, bisa digunakan untuk promosi dan publikasi.

Namun demikian, saya juga harus menyampaikan bahwa test juga memiliki kekurangan. Ada satu hal yang ingin saya garis bawahi. Saya merasa kurang mendapatkan materi dan latihan tentang speaking ketika itu. Padahal menurut saya inilah yang paling perlu untuk banyak dilatih (di camp IELTS juga tidak diwajibkan untuk berbahasa Inggris) karena latihan reading dan listening sejatinya bisa dilakukan sendiri. Tapi saya yakin Test sekarang sudah lebih baik, karena salah satu kelebihan test juga adalah mereka memiliki sistem yang adaptable dan dinamis untuk mencari bentuk yang ideal.

Sepulang dari Test saya membawa materi elektronik IELTS yang sangat banyak. Saya mengalokasikan waktu satu bulan untuk mempelajari sendiri materi-materi tersebut, untuk setelahnya mendaftar mengikuti real test IELTS.

Selain IELTS, Test juga memiliki beberapa program lainnya yang bisa anda cek sendiri di website mereka. Sedikit tips, jika anda memutuskan untuk kursus IELTS di test, terlebih dahulu penting untuk anda tanyakan siapa pengajarnya, memiliki pengalaman seperti apa, atau pengajarnya ber-skor IELTS berapa. Hal ini penting karena tidak semua pengajar menetap di sana dan berganti-ganti. Saya ketika itu mendapatkan pengajar yang luar biasa menginspirasi di mata saya dan memiliki skor IELTS 7.5.

Apa yang sampaikan di atas adalah pengalaman saya satu tahun yang lalu. Mungkin saja saat ini sudah banyak perubahan yang terjadi. Terkhusus untuk sistem belajar di Test English School, saya yakin kini sudah banyak perubahan.

Drummond Building, Newcastle University.